Sabtu, 27 Maret 2010

Tabling FNB Kolektif Makan Senjata Samarinda










Hell yeah! Akhirnya, setelah beberapa bulan absen, akhirnya bisa tabling lagi!

SEMUA berawal dari discuse dan sharing di Warung Nusantara (Warnus), Jl Pramuka. Ini hanyalah kongkow bersama yang tak direncanakan, sebenarnya.
Entah kenapa, bermula dari itu, pertemuan antara saya dengan Jali, Avuk Jimmy, Sahrul, Ceci, Iman, Yudha, Boge dan teman-teman yang lain semakin intens dilakukan. Biasanya sambil bergosip ria. Soal scene, soal agenda selanjutnya, soal rencana membuat newsletter bersama, hingga soal “kembang desa” yang jadi “idola baru” di Warnus. Anyway, semua berjalan sebagaimana seharusnya. Bukan karena campur tangan Tuhan. Namun karena kami yang menentukannya. Hingga akhirnya, kami bersepakat membuat tabling FNB di tahun dan bulan ini.
Sabtu (3/10) malam lalu teman-teman memutuskan berkumpul di Warnus. Agendanya membahas bagaimana ’tetek-bengek FNB besok dilakukan. Prepare pun dilaksanakan. Teman-teman mulai menentukan menu yang menjadi pilihan, peralatan makan yang akan dibawa, lokasi, dan yang lain.
Selayaknya gerombolan anak-anak rumahan yang keluar dari kerangkeng rumah, agenda pun sempat menguap. Maklum, beberapa teman malah sibuk mengamati setiap langkah “kembang desa” berkulit putih itu di sekitaran meja-meja di Warnus, ada pula sibuk konsentrasi menyantap hidangan ayam bakar (termasuk saya), bahkan ada yang asik bermain Fingerboard dengan memanfaatkan meja makan dan bungkus rokok.
So that’s it, meski sempat “melantur” kemana-mana, akhirnya agenda prepare malam itu berjalan juga.
Menu yang dipilih kali ini adalah sup singkong. Agaknya, menu FNB bulan ini hampir sama seperti menu FNB sebelumnya. Tapi, bukan tanpa alasan menu sup singkong ini dipilih. Selain karena akses mendapatkannya cukup mudah, cara mengolahnya pun terbilang sederhana. Apalagi sup singkong juga banyak mengandung protein dan vitamin untuk tubuh.
Sementara untuk lokasi tabling FNB, teman-teman memilih lokasi halaman depan salah satu warnet di Jl dr Sutomo. So, setelah mendata berbagai macam keperluan untuk besok, akhirnya teman-teman yang hadir pun mendapat beban tugas masing-masing.

---0---

KAMI memulai segala sesuatunya di kediaman Iman, di kawasan Jl Wijaya Kusuma. Sekira pukul 09.00 Wita, beberapa teman sudah ada yang nangkring disana menunggu singkong yang dikabarkan datang dengan kekuatan 6 kg. Sedang yang lainnya, masih mendengkur di kasur rumah (ini dilakukan oleh Avuk Jimmy, lho! Heuheuheu)
Meski demikian, secara keseluruhan, persiapan bahan makanan untuk menu FNB dapat dipastikan bisa dikerjakan dengan segera. Sebab, mereka yang bertugas mencari singkong juga ikut berkurusetra mengupas kulit singkong bersama-sama di pelataran rumah Iman. Apalagi, bala bantuan juga datang dari ibunda Iman, yang rela dapurnya kami gunakan untuk memasak (meski ujung-ujungnya ibunda Iman juga yang memasak plus membuat risol panas untuk kami. Heuheuheu)
Sekira pukul 12.30 Wita, tanda-tanda sup singkong telah jadi belum tampak. Apalagi hujan turun lebih banal dari biasanya. Saya sendiri tak tahu apa sebab keterlambatan ini karena baru tiba di kediaman Iman sekira pukul 13.18 Wita. Itu semua terjadi karena saya harus berjibaku dengan kerja yang amit-amit minta ampun tak pernah kompromi sebagai wartawan; Liputan halal bihalal Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Kaltim dan Kompetisi Skateboar Road to Makasar di depan Gedung PKK. Tentu acara menyebalkan, pikir saya.
Setelah berusah payah mengejar waktu, akhirnya saya tiba juga disana. Teman-teman yang lebih dulu hadir terlihat sibuk dengan perkakas memasak. Sebagian ada yang membantu ibunda Iman di dapur dan menonton televisi sembari mencabut tangkai cabai.
Waktu sudah menunjukkan sekira pukul 03.30 Wita. Persiapan untuk tabling FNB kelar. Selebaran tentang FNB pun sudah diperbanyak. Mangkung, sendok, gelas, air minum, meja juga telah siap. Setelah berleha-leha sejenak di ruang tamu kediaman Iman, akhirnya kami bergegas menuju lokasi tabling FNB.

---0---

LOKASI yang kami tentukan sebelumnya agaknya tak begitu representatif untuk tabling FNB. Selain banyak genangan air di depan warnet lantaran hujan siang tadi, juga karena space tabling terlalu kecil. Akhirnya, teman-teman berinisiatif menggelar tabling FNB di sisi kantor salah satu bank di sudut jalan itu.
Di sana
, beberapa orang dengan beragam latar belakang sempat mencicipi hidangan sup singkong buatan kami. Ada penjual mainan, anggota komunitas motor, dan pejalanan kaki. Meski tabling FNB pada hakikatnya adalah membagi-bagikan makanan secara gratis, tapi banyak diantara mereka yang malu mampir menyantap menu yang kami sajikan. Malah, beberapa pejalan kaki hanya sekadar melihat apa yang kami lakukan.
Meski demikian, tabling FNB kemarin agaknya cukup berbeda dari biasanya. Sebab, selain kami, ruang publik itu juga disesaki dengan keberadaan gerombolan mahasiswa dari 2 perguruan tinggi dan 1 komunitas motor disana. Apa yang mereka lakukan, sudah tentu dapat kami ketahui. Mereka sedang melakukan aksi penggalangan dana untuk masyarakat Sumatra Barat (Sumbar) yang baru saja diguncang gempa.
Simpang 4 jalan itu memang sering digunakan. Biasanya oleh organisasi kemasiswaan, NGO dan ormas sebagai arena demostrasi hingga aksi solidaritas. Lokasinya yang cukup strategis membuat siapapun bisa melempar wacana seluas-luasnya kepada masyarakat yang lalu lalang disana. Maka jangan heran jika simpang 4 jalan yang saya maksud ini seolah menjadi “medan perang wacana” antara kami dan mereka. Karena di waktu bersamaan, beberapa diantara kami juga bertugas membagi-bagikan selebaran soal FNB kepada masyarakat di simpang 4 lampu merah jalan itu.

Soal Tabling FNB dan Gempa di Sumatra Barat

APA yang dilakukan gerombolan mahasiswa dari 2 perguruan tinggi dan 1 komunitas motor di acara tabling FNB kami adalah hal biasa terjadi di sekitar kita. Hal ini karena masyarakat Indonesia menderita sindrom akut “latah-latahan” (seperti kasus penggunaan baju Batik contohnya, Red).
Secara umum, gempa yang terjadi di Bumi Andalas memang cukup mengerikan. Gempa berkekuatan 7,6 skala richter (SR) telah meluluhlantakkan seluruh infrastruktur bangunan di Sumbar. Apalagi dengan bencana sebesar itu, dapat dipastikan ratusan warga di beberapa daerah yang terisolir disana terancam kelaparan.
Di tengah alienasi bantuan yang datang bertubi-tubi dengan beragam atributnya disana pasca gempa, saya seolah terpedaya. Saya, secara personal, seolah teralienasi dari kepekaan dan sisi humanitas “mereka-mereka” yang membantu disana. Kebaikan-kebaikan tak lebih lebih dari sebuah topeng-topeng sosial dan bakti amal di balik simbol-simbol, identitas, logo baik oleh korporasi, agama ataupun kepentingan politik. Suck’s!!! Hingga saat ini dan yakin sampai kapanpun tak akan pernah menyelesaikan kehidupan manusia yang semakin banal.
Sebuah cobaan berat di saat kita menampilkan sebuah tawaran mengembalikan lagi sisi-sisi kehidupan yang telah hilang, akan diperhadapkan pada respon-respon yang tak lebih dari sebuah gambaran apatisme. Tapi bukan sesuatu yang tidak mungkin, karena penerimaan sesuatu bertitik tolak dari pembiasaan-pembiasaan yang akhirnya menjadikannya mungkin. Seperti sebuah reklame yang terus membuntuti dan membiasakan kita untuk tak melepas pandangan hingga kita yakin untuk memilihnya.
Tabling FNB yang kami buat ini, mungkin, adalah satu dari sekian banyak wacana yang bisa menjadi simbol sebuah tawaran. Sebuah aksi langsung yang sangat sederhana, namun memiliki makna filosofis yang luas, setidaknya. Ya, FNB Kolektif Makan Senjata adalah medium sekaligus pesannya bahwa makanan adalah kebutuhan paling esensi dalam kehidupan makhluk hidup (manusia, hewan dan tumbuhan). Makanan tak bisa digolongkan hak ataupun kewajiban, tapi sesuatu yang “harus”.
Alam telah bekerja dalam sebuah fungsi ekologis sebagai sumber makanan dan dalam keseimbanganya akan terus mencukupi kebutuhan paling esensi ini. Namun yang terjadi adalah sebuah ketidakseimbangan. Alam tak lagi berjalan sebagaimana adanya. tereksploitasi dan menjadi komoditas yang hanya dikuasai oleh sebagian orang. Makanan bukan lagi hal cuma-cuma tapi telah melekat label-label harga dan dihiasai oleh citra-citra. Kemiskinan, kekeringan, kelaparan, adalah hal yang tak bisa dihindarkan. Di sisi lain, ada pula yang mati-matian bekerja untuk mencari sesuap makanan. Sedang sisi lainnya, beberapa orang menumpuk makanan dan mati-matian menguruskan badan. Betapa konyolnya jika ini dianggap sebuah kewajaran atau takdir kehidupan.
FNB, membawa pesan bahwa siapapun tak pantas lapar di muka bumi ini, makanan adalah esensi yang harus selalu ada dan seharusnya cuma-cuma karena ada cukup makanan yang tersedia untuk semua dan FNB sekaligus medium siapapun bisa saling membantu, berkontribusi dan saling mempertemukan bagi mereka yang berkelebihan bahan dan mereka yang berkekurangan, mengembalikan lagi sebuah hubungan sosial manusia. Sebuah aksi langsung, sangat sederhana lepas dari kerumitan birokratis. Namun FNB hanyalah sebuah kerja sia-sia jika saat kita masih mengangap ini sebuah kegiatan amal atau pengguguran atas kewajiban. FNB seharusnya menjadi sebuah pembiasaan yang akhirnya menjadi bagian dari kehidupan harian hingga kita tak lagi menyebutnya dengan nama yang telah melekat padanya. Bayangkan jika tiap saat di berbagai tempat (seperti di Sumbar) kita bisa menemui dapur-dapur umum yang menyediakan makanan bagi semua. Tapi tidakkah ini akan membentuk sebuah masyarakat yang manja? Pertanyaan yang sering dilontarkan bagi mereka masih terjebak pada kedangkalan pemahaman, karena FNB tidak terbatas pada distribusi akan bahan makanan tapi setiap proses yang berjalan di dalamnya. Prinsip-prinsip kerja yang pernah digunakan berabad-abad lalu saat kehidupan boleh dibilang masih beradab. Swakelola, partisipatoris, non hirarkis, desentralisasi adalah prinsip-prinsip tak terpikirkan lagi. Karena kita berada dalam sebuah tatanan yang terus menjerat menjadi masyarakat pasif yang kehilangan kontrol atas diri sendiri, terjebak hingga tertutup akan hal di luar dari pada itu. Hingga tak heran jika ada banyak pertanyaan semacam tadi, sebuah apatisme. ’Toh menurut saya, apa salahnya masyarakat hidup dalam kenyamanan yang sudah sejak lama di menderitakan oleh keadaan.
Semoga tidak menjadi peagung-agungan atas sebuah pilihan karena tak pernah tertutup kemungkinan bagi sesuatu yang lebih baik. ’Nah, selama kita masih yakin dan percaya dengan cara ini, mari kita gelar FNB lagi sebagai sebuah tawaran dan bentuk wacana kepada masyarakat bahwa makanan seharusnya menjadi milik semua. Kali ini lebih banyak teman, lebih banyak cinta, lebih banyak rasa dan sudut pandang. Semoga.

Tidak ada komentar: